Notification

×

Tag Terpopuler

Iman Biji Sesawi, Sekalipun Sebagai Biji Yang Terkecil Tetapi ada Kehidupan Didalamnya

Minggu, 12 April 2026 | April 12, 2026 WIB Last Updated 2026-04-12T12:54:07Z
Ibadah Raya ke II GBI UCM BATAM 

BATAM, SOROTTUNTAS.COM - Biji sesawi adalah benih yang paling kecil. Tapi didalam biji sesawi ada kehidupan. Ketika biji itu jatuh ke tanah, biji ini akan mengeluarkan kehidupan. Perkataan atau perumpamaan Yesus tentang biji sesawi berbicara tentang iman. Disini Yesus sedang menegur iman murid-murid. 


Memang sangat disayangkan, meski murid murid selalu bersama dengan Yesus, tetapi murid murid tidak memiliki iman sekalipun iman sebesar biji sesawi. Matius 17:20 Ia berkata kepada mereka: ”Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, – maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu. 


Yesus mengatakan ini tentu ada latar belakangnya. Karena dimana dalam ayat sebelumnya, murid murid tidak sanggup menyembuhkan orang sakit ayan. Itulah yang melatar belakangi Yesus berkata, kamu kurang percaya meski kamu sudah bertekun, melayani bersama Yesus. Matius 17:14-16 TB


14 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya kembali kepada orang banyak itu, datanglah seorang mendapatkan Yesus dan menyembah, 

15 katanya: ”Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air. 

16 Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya.” 

Dalam hal ini Yesus mau murid murid itu beriman. 


Bagian II Iman Yang Mencabut Akar Kepahitan. Matius 17:16 

{16} Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya.” 

[17] Maka kata Yesus: ”Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!” 


Kata Yesus lagi, Seandainya kamu memiliki iman sebesar sesawi saja maka kamu dapat berkata kepada pohon itu, tercabut lah, maka pohon itu akan tercabut. Sebenarnya kalimat ini disampaikan oleh Yesus dilatarbelakangi oleh ayat dalam Injil Lukas 17:3-6

[3]  Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. 

[4]  Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.” 

[5] Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: ”Tambahkanlah iman kami!” 

[6] Jawab Tuhan: ”Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.”


Yesus tahu bahwa mengampuni itu memang sesuatu hal sulit. Apalagi harus mengampuni berulang ulang dan sampai memiliki akar kepahitan. Perkataan Yesus yang mengatakan, "Seandainya kamu memiliki iman sebesar sesawi saja maka kamu dapat berkata kepada pohon itu, tercabutlah, maka pohon itu akan tercabut. 


Perkataan ini Yesus katakan bukan untuk pamer kehebatan. Melainkan supaya melalui iman, kita mampu mencabut akar kepahitan yang ada didalam hati. Dan lewat iman itu juga kita mampu melepaskan pengampunan terhadap orang yang bersalah kepada kita.


Ibrani 12:15 mengatakan, Seseorang yang memiliki akar pahit didalam hatinya akan menciptakan kerusuhan. Akar kepahitan itu akan menciptakan kerusuhan melalui fitnah, gosip yang dapat mencemarkan banyak orang. 


[15] Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.


Hal ini terjadi karena didalam hatinya ada akar pahit. Kesimpulan, seseorang yang masih memiliki akar pahit, tidak usah ia berbicara tentang  pertobatan, tentang pelayanan, tentang sorga, sekali pun dia seorang hamba Tuhan. 


Maka hati-hatilah dengan akar kepahitan, akar busuk dan akar jahat. Musa pun pernah mengalami akar kepahitan yang menggagalkan ia masuk ke tanah Kanaan. Mazmur 106:33

[32]  Mereka menggusarkan Dia dekat air Meriba, sehingga Musa kena celaka karena mereka;

[33] sebab mereka memahitkan hatinya, sehingga ia teledor dengan kata-katanya.


Jadi jangan sampai ada kepahitan, luka-luka batin yang seperti tidak terlihat tertanam didalam hati. Jikapun ada kepahitan dan luka-luka yang sempat tertanam di hati, maka dibutuhkan iman untuk mencabutnya. Sehingga dengan iman, kita bisa melepaskan pengampunan, dan mencabut semua akar kepahitan itu.


Ada 3 ayat yang membantu untuk memudahkan mengampuni:

1. Mengikuti teladan Yesus. Markus 11:24-25

[24] Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. 

[25]  Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.”


Kalau kita tidak mengampuni maka kita juga tidak diampuni. Kita akan sama seperti Kain yang persembahannya ditolak Tuhan. Maka jika kita tidak mengampuni, maka Bapa di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahan kita.


2. Merasa Sebagai Orang Yang Paling Berdosa 1 Timotius 1:15 

Dalam ayat ini Paulus mengakui dan merasa dirinya sebagai orang yang paling berdosa dihadapan Tuhan.

[15] Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: ”Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. 


Maka kita juga harus menyadari, bahwa kita adalah orang yang paling berdosa supaya kita diampuni. Dengan kesadaran itu kita juga akan dengan mudah menerima orang yang bersalah kepada kita. Sebaliknya selama kita merasa paling benar dari orang lain maka kita akan sulit mengampuni.


3. Mengasihi dan Mengampuni 

Matius 18:23-35 [23] Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. 

[24] Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. 

[25] Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. 

[26] Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. 

[27] Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. 

[28] Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! 

[29] Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. 

[30] Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. 

[31] Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. 

[32] Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. 

[34] Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.

[35] Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”


Kembali dengan biji sesawi yang terkecil, dimana biji sesawi ini jika sudah bertumbuh akan menjadi tempat dimana burung burung di udara bisa bersarang.

Matius 13:31-32

[31] Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: ”Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. 


[32] Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”


Memang biji sesawi ini yang paling kecill, tetapi ketika biji sesawi yang terkecil ini bertumbuh, maka biji yang paling kecil ini akan menjadi pohon besar, tempat dimana burung burung di udara bisa bersarang pada cabang-cabangnya.


Sama halnya dengan iman, dimana iman dimulai dari iman yang kecil. Seperti halnya Iman Daud. Iman Daud tidak dimulai di istana. 


Melainkan iman Daud itu dimulai di Padang. Di padang terbiasa mengalahkan binatang bintang buas. Sehingga tidak heran dengan iman yang semakin bertumbuh, Daud mampu mengalahkan Goliat yang sangat besar. 

Oleh: Pdt Wilson Sinaga

×
Berita Terbaru Update